<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dualapan08's Weblog</title>
	<atom:link href="http://dualapan08.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dualapan08.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jun 2008 13:36:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dualapan08.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/97e5aa858c515dd9baf266e88e34efe7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dualapan08's Weblog</title>
		<link>http://dualapan08.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>TRANSMISSIBLE VENEREAL TUMOR PADA ANJING</title>
		<link>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/12/transmissible-venereal-tumor-pada-anjing/</link>
		<comments>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/12/transmissible-venereal-tumor-pada-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 13:19:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dualapan08</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dualapan08.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Amanda Rasul, DVM.
Case :
Anjing bullmastiff, betina, 2 tahun+ datang ke klinik ( 29 april 2008 ) dengan kondisi pembengkakan daerah genital dan leleran darah bercampur nanah serta adanya bentukan nodular kemerahan (cauliflower). Pemilik mengatakan leleran darah dan nanah sudah ada sejak November 2007. Kondisi kini semakin parah dengan adanya pembengkakan daerah genital dan leleran darah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=9&subd=dualapan08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;">Amanda Rasul, DVM.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Case :</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Anjing bullmastiff, betina, 2 tahun+ datang ke klinik ( 29 april 2008 ) dengan kondisi pembengkakan daerah genital dan leleran darah bercampur nanah serta adanya bentukan nodular kemerahan (<em>cauliflower</em>). Pemilik mengatakan leleran darah dan nanah sudah ada sejak November 2007. Kondisi kini semakin parah dengan adanya pembengkakan daerah genital dan leleran darah bercampur nanah serta adanya bentukan nodular kemerahan (<em>cauliflower</em>). Anjing masih aktif dan nafsu makan baik. Beberapa bulan sebelum adanya leleran darah, anjing dikawinkan dengan anjing jantan yang diduga menderita Transmissible Venereal Tumor (TVT). Pengobatan dengan vincristine (0,025/kg i.v) setiap minggu selama 4 minggu menunjukan hasil yang baik. Satu minggu setelah pemberian vincristine ( 6 mei 2008 ) tidak ada lagi leleran nanah dan pembengkakan, namun bentukan nodular kemerahan masih ada (<em>cauliflower</em> mengecil). Dengan dosis yang sama vincristine kembali diberikan (i.v). Tanggal 13 mei 2008 bentukan <em>cauliflower </em>semakin mengecil dan kembali diberi vincristin. Tanggal <span> </span>22 mei bentukan <em>cauliflower</em> hampir tidak terihat dan masih diberi vincristine. Satu minggu setelahnya bentukan<em> cauliflower</em><span> </span>sama sekali hilang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-9"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Pembahasan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Transmissible Venereal Tumor (TVT) merupakan infeksi sarkoma, veneral granuloma,transmissible limposarcoma,sticker tumor yang umumnya menginfeksi alat genital jantan maupun betina. Meskipun dilaporkan pula kasus TVT yang menginfeksi <span> </span>daerah cervik, punggung, flank, daerah abdomen, intranasal (Park <em>et al.,</em> 2006; Marcos <em>et al.</em>, 2006; Papazoglou <em>et al.,</em> 2001). Paling banyak Kejadian TVT yakni berada dilingkungan tropis dengan temperature hangat (Rogers, 1997).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tumor dapat tumbuh 15-60 hari setelah implantasi, dan dapat tidak terdeteksi selama bebrapa tahun (Lombard et al., 1968; Moulton, 1978).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Gejala TVT ialah adanya bentukan seperti <em>cauliflower</em> kemerahan. Biasanya pada daerah genital. Secara makroskopis, bentuknya beragam. Ada yang kecil maupun besar (5µm-10 cm), lunak maupun keras, abu-abu hingga kemerahan, bentukan nodular maupun papilary di penis ataupun lapisan permukaan preputium. Dapat terjadi juga pada glans penis, kadang pada bagian dalam penis bahkan scrotum dan daerah perineal. Pada anjing betina biasanya terpencil, dapat ditemukan pada seluruh bagian mukosa vagina, sering pula menyebar ke vestubula hingga labia. Ukurannya bervariasi dari nodular kecil hingga besar hinga menyebar ke lumen vulvovagina atau menjulur hingga diantara labia. Kedua kelamin sering terjadi perubahan yang regresif hingga mudah berdarah hingga keluar leleran serous, hemoragi ataupun leleran purulent dari preputium maupun vagina (Aiello <em>et al</em>., 2000) (Bloom <em>et al</em>., 1950).</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Secara mikroskopis. Sel tumor besar, bulat, polyhedral, ataupun sedikit oval, jarang yg ireguler, beberapa uniform ukurannya. Nucleus besar, relative vesicular, jelas, umumnya satu inti. Tidak ada Sitoplasma bergranulasi (eosinofilik atau basofilik(giemsa)), dan dengan ciri tumor pada umumnya (Bloom <em>et al</em>., 1950).</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Pengobatan TVT yang paling efektif ialah dengan kemoterapi. Beberapa penelitian menunjukan pengobatan dengan vincristin sangat baik hasilnya. Vincristine diberikan setiap minggu dengan dosis 0,5 – 0,7 mg/m2 dari area tubuh atau 0,025 mg/kg secara intra vena. Lama pengobatan juga bervariasi 2 – 7 kali (Marcos <em>et al.</em>, 2006; Nak <em>et al</em>., 2005; Papazoglou <em>et al</em>, 2001). Vincristine merupakan kelompok <em>vinca alkaloid</em> yg merupakan obat kemoterapi. Vincristine ialah ekstrak dr tanaman <em>vinca rosea </em>yg merupakan racun <em>microtubule</em><span class="MsoHyperlink"> (</span><span class="title1">Brooks, 2008).</span></p>
<p><span class="title1"><span style="font-size:12pt;"><br />
</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span class="title1"><strong>Daftara Pustaka</strong></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Aiello, S.E., <em>et al. </em>2000. The Merck Veterinary Manual Eight ed. Merck&amp;Co. inc whitehouse station N.J.USA.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Bloom, F., George, H., Nobace, C.R. 1950. <em>The Transmissible Venereal Tumor of the Dog. Studies Indicating That the Tumor Cells are Mature end Cells of reticulo-endothelial origin</em>. Departments of Pathology and Anatomy of the State University Medical Center at New York, Brooklyn, N.Y., and the Departments of Anatomy of the Hahnemann Medical CoUege and Hospital, Philadelphia, Pa., and of the College of Physicians and Surgeons, Columbia University, New York, N.Y.</p>
<p style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><span class="title1">Brooks, W.C. 2008. </span><span class="header1"><em>Vincristine (Oncovin, Vincasar).</em></span><span class="title1"> veterinarypartner.com</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Lombard, C.H., Cabanie, P.1968. <em>Le sarcome de Sticker</em>. Rev Med Vet. 119(6):565-586.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><span class="title1"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;"><a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez?Db=pubmed&amp;Cmd=Search&amp;Term=%22Marcos%20R%22%5BAuthor%5D&amp;itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DiscoveryPanel.Pubmed_RVAbstractPlus"><span style="text-decoration:none;color:#000000;">Marcos. R</span></a>., <a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez?Db=pubmed&amp;Cmd=Search&amp;Term=%22Santos%20M%22%5BAuthor%5D&amp;itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DiscoveryPanel.Pubmed_RVAbstractPlus"><span style="text-decoration:none;color:#000000;">Santos. M</span></a>., <a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez?Db=pubmed&amp;Cmd=Search&amp;Term=%22Marrinhas%20C%22%5BAuthor%5D&amp;itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DiscoveryPanel.Pubmed_RVAbstractPlus"><span style="text-decoration:none;color:#000000;">Marrinhas. C</span></a>., dan <a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/entrez?Db=pubmed&amp;Cmd=Search&amp;Term=%22Rocha%20E%22%5BAuthor%5D&amp;itool=EntrezSystem2.PEntrez.Pubmed.Pubmed_ResultsPanel.Pubmed_DiscoveryPanel.Pubmed_RVAbstractPlus"><span style="text-decoration:none;color:#000000;">Rocha E</span></a>. 2006. <em>Vet Clin Pathol.</em> Cutaneous transmissible venereal tumor without genital involvement in a prepubertal female dog. Mar <span class="ti">35(1):106-9.</span></p>
<p style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Moulton, J.E. 1978. <em>Tumor of genital systems. In: Moulton JE, ed. Tumors in domestic animals. 2.ed</em>. California: University of California; 326-330.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Nak, D., Nak, Y., Cangul, I.T., and Tuna, B. 2005. A Clinico-pathological Study on the Effect of Vincristine on Transmissible Venereal Tumour in Dogs. <em>Journal of Veterinary Medicine Series A 52 (7)</em> , 366–370 doi:10.1111/j.1439-0442.2005.00743.x</p>
<p style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Papazoglou, L. G.,. Koutinas, A. F., Plevraki, A. G., Tontis, D. 2001. <em>Journal of Veterinary Medicine.</em> Primary Intranasal Transmissible Venereal Tumour in the Dog: A Retrospective Study of Six Spontaneous Cases. Series A 48 (7) , 391–400 doi:10.1046/j.1439-0442.</p>
<p style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Park, M.S., Kim, Y., Kang, M.S., Oh, S.Y., Cho, D.Y., Shin, N.S., Kim, D.Y. 2006. Disseminated transmissible venereal tumor in a dog. <em>J Vet Diagn Invest</em>. 18:130–133.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.25in;text-indent:-0.25in;">Rogers KS. Transmissible venereal tumor. Compend Contin Educ.Pract Vet 1997; 19: 1036-1045</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dualapan08.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dualapan08.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dualapan08.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dualapan08.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dualapan08.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dualapan08.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dualapan08.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dualapan08.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dualapan08.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dualapan08.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dualapan08.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dualapan08.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=9&subd=dualapan08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/12/transmissible-venereal-tumor-pada-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9cc4c857a3cb870788d684af7b3eccc0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dualapan08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DISTRIBUTION OF NEURON NITRERGIC</title>
		<link>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/distribution-of-neuron-nitrergic/</link>
		<comments>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/distribution-of-neuron-nitrergic/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 07:31:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dualapan08</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dualapan08.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[

Amanda Rasul,DVM

Faculty of Veterinary Medicine, Gadjahmada University, Yogyakarta, Indonesia

ABSTRACT

Bat tend to mammals from ordo Chiroptera, which has ability to fly and get their head upside down while asleep. Furthermore, differences of esophagus layer needs specific inervation system which control motility and peristaltic of esophagus muscle that has difference than other species. This study was use [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=6&subd=dualapan08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
</div>
<div>Amanda Rasul,DVM</div>
<div>
Faculty of Veterinary Medicine, Gadjahmada University, Yogyakarta, Indonesia</div>
<div>
ABSTRACT</div>
<div>
Bat tend to mammals from ordo Chiroptera, which has ability to fly and get their head upside down while asleep. Furthermore, differences of esophagus layer needs specific inervation system which control motility and peristaltic of esophagus muscle that has difference than other species. This study was use 5 bat esophagus. The esophagus divide into 3 parts, upper side, middle side, and lower side. Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphat Diaphorase (NADPH-d) histochemistry staining were used to inspected to knows the presence of neuron nitrergic. The difference of total nitrergic in each parts analyzed with One Way Varian Analyst (ANOVA) that continued by Post Hoc test Benferroni Tukey. Neuron nitrergic with ganglion, cell body and fibrous were found in bat esophagus and looks like net. Ganglion arranged by 1-36 cell bodies. The cell body is oval to round and has a nucleus. Distribution of neuron nitrergic is not same at 3 parts. There is significant different at upper and lower side or middle and lower side, but don’t have any significant different at upper and middle side.<br />
Key Words: NADPH-d, Bat, esophagus, nitrergic</div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dualapan08.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dualapan08.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dualapan08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dualapan08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dualapan08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dualapan08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dualapan08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dualapan08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dualapan08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dualapan08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dualapan08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dualapan08.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=6&subd=dualapan08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/distribution-of-neuron-nitrergic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9cc4c857a3cb870788d684af7b3eccc0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dualapan08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONTROL POPULASI PADA ANJING</title>
		<link>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/kontrol-populasi-pada-anjing/</link>
		<comments>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/kontrol-populasi-pada-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 07:25:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dualapan08</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dualapan08.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[AmandaRasul,DVM
INTISARI
Populasi anjing yang tidak terkontrol menjadi suatu masalah yang harus dipecahakan. Isu kesejahteraan hewan pun menjadi layak diangkat untuk mecapai prinsip kesejahteraan hewan. Penyakit dari anjing yang bersifat zoonosis juga menjadi perhatian khusus untuk keselamatan manusia. Karena hal tersebut kontrol populasi menjadi penting untuk dilakukan. Beberapa metode untuk mencegah kebuntingan pada anjing telah banyak berkembang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=5&subd=dualapan08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>AmandaRasul,DVM</p>
<p>INTISARI</p>
<p>Populasi anjing yang tidak terkontrol menjadi suatu masalah yang harus dipecahakan. Isu kesejahteraan hewan pun menjadi layak diangkat untuk mecapai prinsip kesejahteraan hewan. Penyakit dari anjing yang bersifat zoonosis juga menjadi perhatian khusus untuk keselamatan manusia. Karena hal tersebut kontrol populasi menjadi penting untuk dilakukan. Beberapa metode untuk mencegah kebuntingan pada anjing telah banyak berkembang, diantaranya dengan Immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida pada hewan betina, operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada hewan jantan, penggunaan kontrasepsi kimia, dan penggunaan preparat hormonal. Semua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan yang beragam. Pilihan metode terbaik tentu sangat bergantung dengan kebutuhan. Namun tentunya metode yang terbaik ialah yang memiliki efek samping paling sedikit, murah, mudah, dan lebih efektif.</p>
<p><span id="more-5"></span></p>
<p>Banyaknya anjing maupun kucing jalanan di lingkungan sekitar pemukiman penduduk dan juga pusat-pusat kerumunan masyarakat seperti pasar telah memunculkan berbagai permasalahan bagi masyarakat sekitar maupun hewan itu sendiri. Banyaknya kasus-kasus penyakit zoonosis seperti toxoplasmosis, rabies dan penyakit-penyakit zoonosis lainnya yang ditularkan oleh hewan-hewan tersebut khususnya anjing dan kucing merupakan ancaman nyata bagi kesehatan dan jiwa manusia. Bahkan dari penelitian yang dilakukan oleh Tim peneliti Fakulas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (Unud), dari 39 sampel kucing yang diteliti, seekor kucing ditemukan positif flu burung yakni di Kabupaten Jembrana. Sedangkan dari 108 sampel anjing di Kabupaten Buleleng, ditemukan tiga ekor anjing positif flu burung (walaupun belum dapat ditemukan berpotensi zoonosis) (Anonim, 2007). Potensi zoonosis dari anjing dan kucing liar ini menjadi lebih besar karena kebersihan dan pola makan dari hewan ini yang pasti sangat buruk. Selain itu kondisi hewan yang terlantar jelas jauh dari prinsip animal welfare yang terdiri dari lima asas kebebasan sebagai tolak ukur kesejahteraan hewan (UK- Farm Animal Welfare Council 1993), diantara Lima Asas Kebebasan (Five Freedoms) tersebut adalah:<br />
–               Bebas dari rasa haus dan lapar (Freedom from hunger and thirst)<br />
–               Bebas dari rasa tidak nyaman (Freedom from discomfort)<br />
–               Bebas dari kesakitan, cedera dan penyakit (Freedom from pain, injury and disease)<br />
–               Bebas mengekpresikan prilaku alaminya (Freedom to express normal behaviour)<br />
–               Bebas dari rasa takut dan tertekan (Freedom from fear and distress).<br />
Pertumbuhan populasi hewan yang terus meningkat dikarenakan sulitnya dalam melakukan kontrol terhadap perkembang biakannya. Walaupun anjing merupakan hewan mono estrus, yang ovulasinya hanya terjadi satu atau dua kali dalam setahun, namun jumlah kelahiran yang biasanya cukup banyak serta sulitnya mengontrol mereka untuk berkembang biak menjadi masalah tersendiri. Secara normal anjing betina akan mencapai usia pubertas pada umur 7-12 bulan, dengan siklus estrus 5-12 bulan. Waktu ovulasi bervariasi dari anjing yang satu dengan yang lain. Telur yang baru diovulasikan harus melewati pembelahan miotik dengan durasi 2-5 hari dan mungkin terjadi pemasakan sebelum fertilisasi. Fertilisasi terjadi ketika adanya fusi dari dua sel yakni spermatozoa dan ovum untuk membentuk suatu sel tunggal yaitu zygote. Untuk terjadinya fertilisasi ini spermatozoa harus menembus dua membrane pada ovarium. Membrane pertama ialah zona pellucida. Melintasnya spermatozoa ke dalam zona pellucida dipermudah oleh enzim proteolitik yang dilepaskan dari kepala spermatozoa ketika acrosom hilang. Zona pellucida mengalami perubahan sesudah melintasnya spermatozoid (zona reaction) yang menyebabkan sukar dilalui oleh spermatozoa lain. Stadium akhir dari penetrasi spermatozoid ke dalam ovum melibatkan pertautan kepala spermatozoid pada permukaan membrane vitellin. Setelah fertilisasi maka akan terbentuk zygote yang akan membelah menjadi embrio. Embrio akan menuju rongga uterus dan terjadi implantasi yang terjadi sekitar 17-22 hari sesudah perkawinan, lalu diikuti perkembangan organ tubuhnya. Sesudah 21 hari dari perkawinan, terbentuklah cairan yang mengisi membrane fetus yang membesar pada uterus. Lama kebuntingan pada anjing berkisar antara 57-63 hari (Junaidi, 2006). Pertahanan kebuntingan pada anjing tergantung pada sekresi progesterone. Ovarium merupakan sumber utama progesterone yang berfungsi untuk mempertahankan kebuntingan. Aktifitas sekretoris ovarium berada dibawah control hormone gonadotrofik. Sekresi progesterone dari corpus luteum diatur oleh kedua factor luteotropik dan luteolitik. Sumber utama hormone luteotropik ialah glandula pituitary (Junaidi, 2006).<br />
Di negara-negara maju seperti Amerika serikat dan kini bahkan dunia masalah overpopulasi pada hewan menjadi suatu masalah yang sangat serius (Olson, 1993; McNeil; <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Constandy+E%22%5BAuthor%5D">Constandy 2006</a>). Untuk itu dibutuhkan kontrol populasi untuk hewan-hewan tersebut<br />
MACAM-MACAM JENIS KONTRASEPSI PADA ANJING</p>
<p>Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya kebuntingan pada anjing, diantaranya: Immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida pada hewan betina, operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada hewan jantan, penggunaan kontrasepsi kimia, penggunaan preparat hormonal, diantaranya: Prostaglandin F2α dan bromocriptine; Antagonist progesterone anglepristone (alizone); preparat estrogen; GnRH analogue; prolaktin.<br />
I. Kontrasepsi pada Hewan Betina</p>
<p>I.1 Kontrasepsi Hormonal<br />
I.1.1. Prostaglandin F2α dan bromocriptine<br />
Prinsip dari penggunaan kombinasi antara prostaglandin F2α dan bromocriptine ialah menginduksi terjadinya abortus pada anjing (Palmer dan Post, 2002). Bromokriptin merupakan alkaloida ergot semi sintesis dari kelompok ergotoksin dan memiliki daya stimulasi langsung terhadap reseptor dopamine di otak. Peningkatan sekresi dopamine ini identik dengan hormone PIF (Prolactin Inhibiting Factor) yang menyebabkan berkurangnya sekresi prolaktin. Pada akromegalia zat ini digunakan untuk menghambat sekresi hormone pertumbuhan somatropin. Pada manusia resorpsinys di usus sekitar 28%. Di dalam hati bromokriptin akan mengalami biotransformasi (Tjay dan Rahardja, 2002). Berkurangnya sekresi prolaktin ini juga akan menurunkan kadar progesterone dalam darah sehingga dapat menyebabkan abortus. Prostaglandin F2α digunakan untuk mengakhiri kehamilan pada bagian ke dua kebuntingan. Hal ini terjadi karena penyebab luteolisis saat bagian pertama kebuntungan.<br />
Untuk mengetahui keberhasilan penggunaan prostaglandin F2α dan bromocriptine penalitian dilakukan dengan menggunakan 15 anjing betina bunting. Metode yang dilakukan dengan memberikan bromokriptine secara peroral (po) dan prostaglandin F2α secara subcutan (SC). Perlakuan diberikan saat hari ke 6 diestrus. Pada pukul 08.00 Bromokriptin 10µg/ kg diberikan po dengan cara melarutkan 2,5 mg tablet dalam 100 ml air sehingga konsentrasi menjadi 25 µg/ml. 45 menit kemudian diberikan prostaglandin F2α 250µg/ kg sc. Pukul 10.30 anjing tersebut diberi makan, dan pukul 17.00 kembali diberikan Bromokriptin 10µg/ kg po, dilanjutkan dengan pemberian prostaglandin F2α 250µg/ kg sc 45 menit kemudian. Hal ini diulang terus selama 5 hari. Pemberian waktu jeda antara bromkriptine dan prostaglandin F2α untuk mencegah terjadinya muntah.<br />
Setelah 6 kali treatment seluruh anjing menunjukan memiliki konsentrasi progesterone dibawah 2,0 ng/mL. Setelah 2 hari treatment konsentrasi progesterone masih menunjukan lebih dari 2,0 ng/mL, selanjutnya mulai hari ketiga perlakuan baru berada dibawah 2,0 ng/mL (0,93 ng/mL). Efek samping dari penggunaan prostaglandin F2α ialah adanya gangguan pada otot halus, anjing menjadi terengah-engah (panting), muntah, hipersalivasi, urinasi dan defekasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kombinasi antara prostaglandin F2α dan bromocriptine selama 5 hari mampu menyebabkan terjadinya luteolysis sehingga mencegah kebuntingan (Palmer dan Post, 2002).</p>
<p>I.1.2. Preparat Estrogen<br />
Penggunaan sintesis natural estrogen selama 1 sampai 5 hari dapat digunakan untuk mencegah kebuntingan. Pada kondisi normal, seletah terjadi proses pembuahan maka akan terbentuk zygote, kemudian zygote membelah yang disebut dengan embryo. Embryo dalam perkembangannya akan berpindah menuju rongga uterus disusul dengan proses implantasi, yaitu upaya embryo untuk mengadakan hubungan langsung dengan dinding uterus sehingga terjadi hubungan yang erat antara embryo dengan dinding uterus induknya. Pada tahap ini secara normal corpus luteum akan mengeluarkan progesterone untuk memlihara kebuntingan (Hardjopranjoto, 1995), namun dengan adanya pemberian natural estrogen, maka kadar estrogen dalam darah akan meningkat sehingga mengganggu implantasi embryo. Namun metode ini memiliki resiko yang besar terhadap kejadian pyometra. Selain itu dapat pula terjadi non reversible anemia yang dikarenakan terdepresnya bone marrow serta dapat mengakibatkan kematian (Olson et al., 1992).<br />
Penelitian lainnya juga dilaporkan dengan pemberian estradiol benzoate mampu mecegah kebuntingan pada anjing. Prinsip dari pemberian estradiol benzoate ialah menghambat turunnya embryo pada tuba uterine dan meningkatkan kejadian degenerasi embryo. Estradiol benzoate yang efektif diberikan sebanyak 0,02 mg/kg yang diberikan 2 hari setelah kawin ataupun 5 hari setelah ovulasi (Tsutsui et al., 2006)</p>
<p>I.1.3. Antagonist progesterone anglepristone (alizone)<br />
Progesteron dibentuk oleh corpus luteum, plasenta, testes dan kortex anak ginjal dibawah pengaruh FSH dan LH dari hipofisis (Tjay dan Rahardja, 2002). Progesteron merupakan hormone kebuntingan yang dapat menyebabkan penebalan endometrium dan perkembangan kelenjar uterin sebelum terjadinya implantasi dari ovarium yang dibuahi. Selama kebuntingan, progesterone menahan timbulnya ovulasi melalui inhibisi umpan balik FSH dan LH dari adenohipofisis (Frandson, 1992).<br />
Zat-zat anti progesterone akan melawan kegiatan progesterone dengan jalan memblok secara kompetitif reseptornya di organ tujuan. Kehamilan akan dihentikan akibat efek progesterone terhadap endometrium dihambat (Tjay dan Rahardja, 2002).<br />
Penelitian yang dilakukan terhadap 93 ekor anjing betina yang telah dikawinkan dan diberi antagonist progesterone anglepristone (alizone), hanya satu ekor anjing yang menunjukan bunting, sedangkan 92 ekor lainnya tidak bunting. 51 ekor anjing yang tidak bunting tersebut tidak menimbulkan adanya efek samping, sedangkan sisanya menunjukan gejala berupa gatal-gatal, vaginal discharge, nafsu makan yang menurun dan lemah (<a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Hubler+M%22%5BAuthor%5D">Hubler</a>. dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Arnold+S%22%5BAuthor%5D">Arnold, </a>2000).</p>
<p>I.1.4. GnRH analogue<br />
Penggunaan gonadrotropin agonist akan menimbulkan folikulogenesis dan ovulasi yang diikuti dengan diperpanjangnya ovaria pasif. Beberapa GnRH agonist mampu menekan gonadal atau mencegah pubertas baik pada hewan jantan maupun betina, diantaranya: including goseralin, buseralin, nafarelin, aza-gly-nafarelin, dan doseralin. Kelanjutan dari penggunaan GnRH agonist pada doisis efektif, estrus fertile tidak diikuti keberhasilan kebuntingan. Hal ini terjadi karena menurunnya regulasi LH (dan FSH) secara terus menerus sehingga akan menekan sekresi progesterone normal sampai pada level yang lebih rendah yang diperlukan untuk kebuntingan selanjutnya (Concannon, 2006).<br />
Implant GnRH analogue dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada fungsi reproduksi secara reversible. Pelepasan GnRH analogue deslorelin yang terus menerus akan memberikan hasil berupa aksi antifertilitas yang reversible. Penundaan estrus dapat terjadi hingga 27 bulan (Trigg et al., 2001). Pada anjing liar juga menunjukkan hasil yang baik. Deslorelin mampu menginduksi terjadinya kontrasepsi untuk mencegah terjadinya perkawinan hingga satu periode musim kawin (Bertschinger et al., 2002).</p>
<p>I.2. Immunokontrasepsi<br />
Prinsip dari immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida ialah mecegah terjadinya fertilisasi dengan adanya antibody yang akan mengacaukan identifikasi antigen determinan sehingga mencegah penetrasi spermatozoa ke dalam oocyt sehingga tidak terjadi fertilisasi (Brown et al., 1985; Ringleb et al., 2004).</p>
<p>I.3. Operasi<br />
Pencegahan kebuntingan dapat pula dilakukan dengan metode operasi, yakni dengan dilakukan ovareictomy maupun panhysterectomy. Hysterectomy merupakan suatu operasi yang dilakukan pada hewan betina untuk mensterilkan / memandulkan hewan tersebut, yang dilakukan dengan melakukan pengangkatan uterus, namun hewan tersebut masih mampu untuk memproduksi feromon dan estrus (Frandson, 1996., Lane and Cooper, 1994). Panhysterectomy atau ovariohysterectomy adalah suatu operasi pada hewan betina yang mirip dengan hysterectomy, berguna untuk mensterilkan/memandulkan hewan tersebut, sehingga tidak dapat lagi mengalami estrus, kawin, dan beranak, namun dilakukan tidak hanya dengan pengangkatan uterus saja, melainkan dilaksanakan dengan pengangkatan organ mulai dari uterus sampai ovarium dari hewan betina tersebut (Smith, 1965).<br />
II. Kontrasepsi pada Hewan Jantan</p>
<p>II.1. Kontrasepsi Hormonal<br />
II.1.1. Prolaktin<br />
Pemeberian ijeksi prolaktin merupakan salah satu metode yang dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi pada anjing. Pada sebuah penelitian pada anjing jantan, injeksi prolaktin diberikan dengan dosis 600µg/kg tiap minggu selama 6 bulan. 3 bulan setelah pemberian prolaktin hasilnya menunjukan jumlah sperma menurun (azoosperma), penurunan motilitas spermatozoa, dan peningkatan sperma yang abnormal. Biopsy testis menunjukan adanya degenerasi pada tubulus seminiferus. Anjing-anjing yang telah diberikan injeksi prolaktin tersebut dikawinkan dengan anjing betina, namun tidak ada satupun anjing betina yang bunting. Tiga bulan setelah penghentian injeksi prolaktin, jumlah sperma terlihat normal dan anjing mampu mengawini anjing betina hingga bunting. Keturunan dari anjing-anjing tersebut tidak ada kelainan. Sehingga prolaktin merupakan kontrasepsi yang bersifat reversible pada anjing jantan (<a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Shafik+A%22%5BAuthor%5D">Shafik,</a> 1994).</p>
<p>II.1.2. GnRH Analogue<br />
Spermatogenesis dan testosterone dipengaruhi oleh sekresi FSH dan LH dari pituitary, yang mana akan dapat ditekan dengan adanya konsentrasi yang tinggi dari GnRH yang terus menerus. Penggunaan GnRH pokeweed antiviral protein (PAP) pada anjing jantan dewasa akan merusak parameter reproduksi pada minggu ke tiga setelah treatment. Setelah diberikan GnRH PAP satu hari sekali selama tiga hari menunjukan adanya penekanan pada pelepasan LH dari pituitary. Kondisi ini akan seiiring dengan mereduksinya konsentrasi serum testosterone dan ukuran testis. Kontrasepsi yang terjadi dengan pemberian GnRH PAP bersifat reversible, karena setelah lima bulan fungsi pituitary untuk menghasilkan LH akan kembali normal (Sabeur, 2003).<br />
Penelitian lainnya melaporkan penggunaan implant yang mengandung GnRH agonist deslorelin mampu memberikan efek kontrasepsi reversible. Penelitian yang menggunakan 8 anjing jantan dewasa (4 anjing sebagai kontrol) menunjukan hasil yakni anjing yang diberikan implant GnRH agonist deslorelin 6 mg secara subkutan, konsentrasi plasma LH dan testosterone tidak terdeteksi setelah 21 dan 27 hari perlakuan. Setelah 14 minggu perlakuan volume testicular akan menurun 35%, dan setelah 6 minggu perlakuan tidak ada lagi ejakulasi. Konsentrasi testosterone akan kembali terdeteksi setelah 44 minggu perlakuan, sedangkan konsentrasi LH terdeteksi setelah 51 minggu perlakuan dan akan kembali normal setelah 52 minggu perlakuan. Karakteristik anjing akan kembali normal setelah 60 minggu pemberian implant (Junaidi et al., 2003). Penelitian pada anjing liar juga menunjukan hasil yang serupa, yakni dengan menggunakan 6 mg deslorelin mampu memberikan respon kontrasepsi selama kurang lebih 12 bulan. Dari penelitian tersebut dijelaskan tidak ada efek samping maupun perubahan kelakuan pada anjing tersebut (Bertschinger et al., 2002).</p>
<p>II.2. Vaksine anti Fertilitas<br />
Penggunaan vaksin antifertilitas dengan imunisasi aktif terhadap LHRH juga dapat mencegah kebuntingan. LH merupakan hormon yang berfungsi merangsang sel-sel interstitial untuk menghasilkan testosterone (Frandson, 1996). Secara normal anjing jantan memiliki plasma testosterone berkisar 0,4 sampai 6 ng/ml, dan konsentrasi LH dari 0,2 sampai 12,0 ng/ml selama periode 24 jam (Junaidi, 2006).<br />
Penelitian yang dilkukan terhadap anjing yang diberikan vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap LHRH menunjukan terjadi penurunan yang signifikan pada serum testosteron, bahkan pada minggu ke empat perlakuan menunjukan kadar serum testosterone mencapai dibawah 0,01 nmol/L yang berarti sama dengan serum testosterone anjing yang telah dikastrasi. Gambaran histologis dari testis menunjukan adanya kerusakan pada spermatogenesis yang berarti anjing menjadi infertile, selain itu volume testicular juga akan mengecil. Jadi imunisasi aktif terhadap LHRH mampu mendepres fungsi testikular (steroidogenesis dan spermatogenesis) pada anjing jantan. Namun kontrasepsi ini bersifat reversible, berbeda dengan kastrasi maupun vasektomi. Beberapa keuntungan dari penggunaan vaksin antifertilitas dengan imunisasi aktif terhadap LHRH ialah: 1) bebas dari bahaya maupun efek samping anastesi, 2) biaya lebih murah, 3) kemungkinan reversibility, dan 4) kemungkinan mencegah carcinoma pada testis maupun prostat (Ladd et al., 1994).</p>
<p>II.3. Kontrasepsi Kimia<br />
Sterilisasi kimiawi merupakan suatu pilihan untuk sterilisasi tanpa tindakan operasi. Penelitian yang dilakukan pada 15 anjing jantan yang berusia 2-3½ tahun dengan pemberian zinc arginine sebanyak 0,5 ml (50 mg) pada cauda epididymis menunjukan terjadinya azoosperma pada hari ke sembilan setelah injeksi. Satu tahun setelah injeksi anjing tersebut sudah menjadi steril. Gambaran histology menunjukan tubulus seminiferus anjing nampak normal, namun terjadi atrophy pada ukuran testis dan peningkatan jaringan konektif. Hasil penelitian ini menyatakan injeksi intra epidermal dengan zinc arginine mampu membuat anjing jantan steril secara permanent (Fahim et al., 1993).<br />
Penggunaan preparat kimiawi lainnya, yakni dengan zinc gluconate solution yang stabil juga mampu menyebabkan sterilitas yang permanent. Penelitian yang dilakukan pada 5 ekor anjing jantan dewasa yang telah diberikan injeksi zinc gluconate solution secara intratesticular, menunjukan kondisi anjung yang mampu penile ereksi, namun anjing tersebut tidak dapat ejakulasi. Gambaran histopatologi menunjukan adanya complete fibris pada tubulus seminiferus dan sel leydig pada hari ke 60 dan 75 (Tepsumethanon et al., 2005)</p>
<p>II.4. Operasi<br />
Sterilitas yang permanent dapat dilakukan dengan kastrasi maupun vasektomi.<br />
Kesimpulan</p>
<p>Kontrol populasi merupakan hal yang penting bukan saja untuk kesejahteraan hewan namun juga untuk kenyamanan hidup manusia. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya kebuntingan dapat bersifat reversibel maupun permanent. Kontrasepsi yang bersifat permanent diantaranya: Immunokontrasepsi dengan protein zona pellucida pada hewan betina, Operasi untuk dilakukan sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, Penggunaan kontrasepsi kimia. Kontrasepsi yang bersifat reversible diantaranya: Vaksin antifertilitas dengan imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada hewan jantan dan Penggunaan preparat hormonal. Metode yang digunakan untuk mencegah kebuntingan tersebut memiliki keunggulan dan kerugian yang beragam.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Anonim. 2007. Flu Burung ditemukan pada Anjing dan Kucing. Headline news. Jum’at, 19 Januari 2007.11:04 WIB</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Bertschinger+HJ%22%5BAuthor%5D">Bertschinger, H.J</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Trigg+TE%22%5BAuthor%5D">Trigg, T.E</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Jochle+W%22%5BAuthor%5D">Jochle, W</a>., dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Human+A%22%5BAuthor%5D">Human, A</a>. 2002. Induction of contraception in some African wild carnivores by downregulation of LH and FSH secretion using the GnRH analogue deslorelin. Reprod Suppl. 60:41-52.</p>
<p>Brown, C.A.M., Yanagimachi, R., Hoffman, J.C., Huang, T.F.JR. 1985. Fertility Control in the Bitch by Active Immuniziation with Procaine Zone Pellucide: Use of Different Adjuvants and Patterns of Estradiol and Progesterone Level in Estrous Cycles. Biology of Reproduction. 32: 761-772.</p>
<p>Concannon, P.W. 2006. Use of GnRH Agonists and Antagonists for Small Animal Contraception. Proceedings of the Third International Symposium on Non-Surgical Contraceptive Methods for Pet Population Control</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Fahim+MS%22%5BAuthor%5D">Fahim, M.S</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Wang+M%22%5BAuthor%5D">Wang, M</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Sutcu+MF%22%5BAuthor%5D">Sutcu, M.F</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Fahim+Z%22%5BAuthor%5D">Fahim, Z</a>., dan<a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Youngquist+RS%22%5BAuthor%5D">Youngquist, R.S</a>. 1993. Sterilization of dogs with intra-epididymal injection of zinc arginine. Epub Contraception. 47(1):107-22.</p>
<p>Frandson, R. D., 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.</p>
<p>Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemanjiran pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya.137-143.</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Hubler+M%22%5BAuthor%5D">Hubler, M</a>. dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Arnold+S%22%5BAuthor%5D">Arnold, S</a>. 2000. Prevention of pregnancy in bitches with the progesterone antagonist anglepristone (alizone). Schweiz Arch Tierheilkd. 142(7):381-6</p>
<p>Junaidi, A. 2006. Reproduksi dan Obsterti pada Anjing. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta</p>
<p>Junaidi, A., Williamson, P.E., Cummins, J.M., Martin, G.B., Blackberry, M.A., dan Trigg, T.E. 2003. Use of a New Drug Delivery Formulation of the Gonadotrophin-Releasing Hormone Analogue Deslorelin for Reversible Long-term Contraception in Male Dogs. Csiro Publishing Reproduction, fertility and Development. 15: 317-322.</p>
<p>Ladd, A., Tsong, Y.Y., Walfield, A.M., dan Thau, R. 1994. Development of an Antifertility for Pets Based on Active Immunuziation against Luteinizing Hormone-Releasing Hormone. Biology of Reproduction. 51: 1076-1083.</p>
<p>Lane, D.R. dan Cooper, B., 1994, Veterinary Nursing, Pergamon, England.<br />
<a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22McNeil+J%22%5BAuthor%5D">McNeil, J</a>. dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Constandy+E%22%5BAuthor%5D">Constandy, E</a>. 2006. Addressing the problem of pet overpopulation: the experience of New Hanover County Animal Control Services. J Public Health Manag Pract. 12(5):452-5.</p>
<p>Olson, P.N., Johnston, S.D., Root, M.V., Hegstad, R.L. 1992. Terminating pregnancy in dogs and cats. Anim Reprod Sci. 28: 399-406.</p>
<p>Olson, P.N. dan Moulton, C. 1993. Pet (dog and cat) overpopulation in the United States. <a href="AL_get(this,%20">J Reprod Fertil Suppl.</a> 47: 433-8.</p>
<p>Palmer, C.W dan Post, K. 2002. Prevention of Pregnancy in the Dog with a Combination of Prostaglandin F2α and bromocriptine. Can Vet J. 43: 460-462.</p>
<p>Ringleb, J., Rohleder, M., dan Jewgenow, K. 2004. Impact of Feline Zona Pellucida Glycoprotein B-derived Synthetic Peptides on in vitro Fertilization of Cat Oocytes. Biology of Reproduction. 127: 179-186</p>
<p>Sabeur, K., Ball, B. A., Nett, T. M., Ball, H. H., dan Liu, I. K. M. 2003. Effect of GnRH conjugated to pokeweed antiviral protein on reproductive function in adult male dogs. Reproduction.. 125: 801–806.</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Shafik+A%22%5BAuthor%5D">Shafik, A</a>. 1994. Prolactin injection, a new contraceptive method: experimental study. Epub Contraception. 50(2):191-9.</p>
<p>Smith, K.W. 1965. Canine Surgery, American Vetrerinary Publications, Santa Barbara California.</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Tepsumethanon+V%22%5BAuthor%5D">Tepsumethanon, V</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Wilde+H%22%5BAuthor%5D">Wilde, H</a>., dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Hemachudha+T%22%5BAuthor%5D">Hemachudha, T</a>. 2005. Intratesticular injection of a balanced zinc solution for permanent sterilization of dogs. J Med Assoc Thai. 88(5):686-9.</p>
<p>Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek Sampingnya. Elexmedia Komputindo. Jakarta.</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Trigg+TE%22%5BAuthor%5D">Trigg, T.E</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Wright+PJ%22%5BAuthor%5D">Wright, P.J</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Armour+AF%22%5BAuthor%5D">Armour, A.F</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Williamson+PE%22%5BAuthor%5D">Williamson, P.E</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Junaidi+A%22%5BAuthor%5D">Junaidi, A</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Martin+GB%22%5BAuthor%5D">Martin, G.B</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Doyle+AG%22%5BAuthor%5D">Doyle, A.G</a>., dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Walsh+J%22%5BAuthor%5D">Walsh, J</a>. 2001. Use of a GnRH analogue implant to produce reversible long-term suppression of reproductive function in male and female domestic dogs. <a href="AL_get(this,%20">J Reprod Fertil Suppl.</a> 57:255-61.</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Tsutsui+T%22%5BAuthor%5D">Tsutsui T</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Mizutani+W%22%5BAuthor%5D">Mizutani W</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Hori+T%22%5BAuthor%5D">Hori T</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Oishi+K%22%5BAuthor%5D">Oishi K</a>., <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Sugi+Y%22%5BAuthor%5D">Sugi Y</a>., dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Kawakami+E%22%5BAuthor%5D">Kawakami E</a>. 2006. Estradiol benzoate for preventing pregnancy in mismated dogs. Epub Theriogenology. 66(6-7):1568-72.,</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dualapan08.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dualapan08.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dualapan08.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dualapan08.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dualapan08.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dualapan08.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dualapan08.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dualapan08.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dualapan08.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dualapan08.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dualapan08.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dualapan08.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=5&subd=dualapan08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/kontrol-populasi-pada-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9cc4c857a3cb870788d684af7b3eccc0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dualapan08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SALMONELOSIS DAN KOKSIDIOSIS PADA BABI (Sus Scrofa)</title>
		<link>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/salmonelosis-dan-koksidiosis-pada-babi-sus-scrofa/</link>
		<comments>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/salmonelosis-dan-koksidiosis-pada-babi-sus-scrofa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 07:22:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dualapan08</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dualapan08.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[AmandaRasul,DVM
Pada tanggal 2 April 2007 telah dilakukan euthanasia dan nekropsi terhadap seekor babi (Sus scrofa) jantan berumur 3 bulan dengan berat badan 10 kg milik Bapak Sugiharto yang beralamat di Kadipiro Yogyakarta. Berdasarkan anamnesa diketahui populasi babi berjumlah 6 ekor, tidak ada kematian dalam 1 minggu terakhir. Babi ini dipisah karena terlalu kecil. Pakan berupa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=4&subd=dualapan08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>AmandaRasul,DVM</p>
<p>Pada tanggal 2 April 2007 telah dilakukan euthanasia dan nekropsi terhadap seekor babi (Sus scrofa) jantan berumur 3 bulan dengan berat badan 10 kg milik Bapak Sugiharto yang beralamat di Kadipiro Yogyakarta. Berdasarkan anamnesa diketahui populasi babi berjumlah 6 ekor, tidak ada kematian dalam 1 minggu terakhir. Babi ini dipisah karena terlalu kecil. Pakan berupa ampas tahu, dedak dan konsentrat. Sumber air minum dari sumur. Kandang berupa kandang permanen dari tembok dengan alas semen. Gejala klinis berupa diare kuning cair dalam beberapa hari, nafsu makan menurun, kondisi tubuh kurus, lemas.<br />
Pemeriksaan patologis secara makroskopis, pada hepar terlihat adanya bintik putih keruh multifokal di sebagian besar lobus dengan diameter 1-2 cm dan bidang sayatan rata. Pulmo juga terlihat adanya eksudat putih keruh multifokal pada lobus diafragmatikus dengan diameter 1-2 cm. Mukosa usus terlihat berwarna kemerahan. Secara mikroskopis pada hepar terdapat infiltrasi limfosit disekitar vena sentralis, serta adanya kongesti pada sinusoid hepar. Pada pulmo terdapat infiltrasi neutrofil pada septa interalveolaris, sehingga terjadi penebalan septa interalveolaris. Duodenum dan kolon terdapat infiltrasi neutrofil serta limfosit, juga terjadi erosi pada epitel<br />
Pemeriksaan parasitologi , pemeriksaan feses secara natif dan sentrifus ditemukan oosista eimeria sp. pada pemeriksaan Mac master diperoleh jumlah oosista 143x 50 = 7150 oosita per gram tinja. Kerokan usus, perasan hepar, pulmo dan preparat apus darah menunjukkan hasil negatif.<br />
Pemeriksaan mikrobiologi diperoleh bakteri Salmonella choleraesuis.<br />
Pemeriksaan patologi klinik terhadap preparat apus darah dan sampel darah yang diberi antikoagulan EDTA, babi dengan nomor protokol C8 menunjukkan gambaran darah anemia normositik normokromik, leukopenia dengan limfopenia, eosinopenia dan monositopenia.<br />
Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan laboratorik maka babi dengan nomor protokol C8 mengalami salmonelosis dan koksidiosis</p>
<p><span id="more-4"></span><br />
TINJAUAN PUSTAKA</p>
<p>Salmonella sp.<br />
Salmonella termasuk kedalam famili Enterobakter, yang merupakan bakteri gram negatif, batang; motile, aerobic dan fakultatif anaerob (Anonim, 2001). Salmonella memiliki panjang yang bervariasi. Sebagian besar yang telah diisolasi motil dengan peritrichous flagella. Salmonella tumbuh cepat dalam media yang sederhana, tetapi hampir tidak pernah memfermentasi laktosa dan sukrosa. Salmonella membentuk asam dan kadang gas dari glukosa dan mannosa. Kadang membentuk H2S dan tahan hidup dalam air membeku pada periode yang lama (Jawetz et al., 2001). Salmonella choleraesuis bersifat motil, mempoduksi asam dan gas pada glukosa, maltosa dan manitol, serta negatif pada laktosa, sukrosa dan salicin. Indol negatif dan tidak menghasilkan H2S (Stuart dan Rustigian, 1944), dilaporkan pula salmonella choleraesuis bersifat variable terhadap adanya H2S (Smith, 1976).<br />
Klasifikasi kelompok salmonella-arizona cukup rumit karena organisme merupakan rangkaian kesatuan dibanding spesies tertentu. Satu sistem klasifikasi terdiri dari tiga spesies utama, salmonella choleraesuis (satu serctipe), salmonella typhi (satu serotipe) dan salmonella enteridis (sekitar 2000 serotipe) (Carter dan Wise, 2004).<br />
Anggota jenis salmonella biasanya diklasifikasikan menurut dasar epidemiologi, jenis inang, reaksi biokimiawi, dan struktur antigen O, H, dan V. Studi tentang DNA hibridisasi memperlihatkan bahwa ada 7 kelompok evolusioner (Jawetz et al., 2001). Beberapa spesies dari grup Salmonella secara khusus hanya mampu beradapatasi pada hospes yang spesifik, sementara spesies yang lain tidak mempunyai hospes tertentu namun bersifat parasitik pada hampir semua hospes dengan sama baiknya. Salmonella sering patogen untuk manusia dan hewan. Mereka disebarkan dari binatang dan produk hewan ke manusia, dimana mereka dapat menyebabkan enteritis, infeksi sistemik, dan demam enterik (Jawetz et al., 2001).<br />
Infeksi salmonella hampir selalu berawal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi. Penyakit kadang-kadang bersifat endemik pada suatu peternakan. Hewan yang masih muda lebih sering dan lebih mudah terinfeksi. Salmonella menginfeksi lapisan epitel ileum dan kolon dan dapat bertahan. Kejadian enterokolitis dan diare terjadi karena:<br />
ü            Memamakan salmonella<br />
ü            Kolonisasi pada intestinum bagian bawah dengan invaginvasi mukosa. Produksi sitotoksin.<br />
ü Radang akut dengan atau tanpa ulcer. Sintesis prostaglandin, produksi enterotoksin, sintesa proinflamatory sitotoksin dari sel epitel.<br />
ü Dengan invasi pada mukosa, aktifnya adenilat siklase dan terjadi peningkatan siklik AMP menginduksi sekresi sehingga terjadi peningkatan cairan yang menyebabkan diare.<br />
Infeksi intestinal akan menyebar menjadi bakterimia atau septisemia (Carter dan Wise, 2004).<br />
Salmonellosis merupakan penyakit yang sering menyerang babi muda. Terjadinya salmonelosis ini biasanya dikarenakan kekurangan pakan, kandang yang buruk, cacingan yang berat, ataupun karena daya tahan dari babi (Anthony, 1961). Sebagian besar serotipe Salmonella mempunyai reaksi biokimia yang yang identik dengan memanfaatkan substrat-substrat yang umum dipakai, karena itu untuk melakukan identifikasi yang spesifik dari genus ini harus melalui penentuan antigennya. Bentuk septisemia akut mempunyai angka kematian yang tinggi. Gejala yang muncul berupa kelemahan umum, gemetar, demam, ada lesi kemerahan sianosis di kulit telinga, anggota gerak, dan punggung, diare cair kekuningan, kemungkinan juga muncul gejala pneumonia, perubahan patologis meliputi hemoragi petekiae dan ekimose pada kulit, namun lesi ini kurang spesifik. Perubahan yang lebih menciri adalah pembesaran lien, limfaadenitis hemoragi, dan sering juga terjadi ikterus. Hemoragi petekiae dan ekimose juga terjadi di permukaan serosa, mukosa laring dan vesica urinaria, dan di parenkim ginjal (Dunne, 1975).<br />
Eimeria spp.<br />
Oosista dari anggota eimeria berisi empat sporokista, masing-masing dengan sporozoit setelah matang. Koksidiosis pada babi disebabkan oleh parasit intraseluler pada saluran pencernakan, trutama pada duodenum dan jejunum (Levine, 1994; Vitovec dan Koudela, 1990). Penyebab koksidiosis yang telah diidentifikasi ialah 8 spesies genus eimeria yakni Eimeria debliecki, Eimeria perminuta, Eimeria suis, Eimeria polita, Eimeria neodebliecki, Eimeria porci, Eimeria scabra dan Eimeria spinosa (<a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Chhabra+RC%22%5BAuthor%5D">Chhabra</a> dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Mafukidze+RT%22%5BAuthor%5D">Mafukidze, 1992) </a>serta satu isospora yakni Isospora suis. Koksidiosis yang disebabkan oleh eimeria spp. merupakan kejadian yang sering ditemukan pada feses babi sehingga sering dianggap normal karena memiliki potensial yang rendah terhadap kejadian penyakit pada babi (Lindsay et al., 1987; Vitovec dan Koudela, 1990; Koudela dan Vitovec, 1992; Daughschies et al., 2004). Meskipun babi yang terinfeksi koksidiosis karena eimeria menimbulkan perubahan akan terjadinya atrofi vili, erosi epitel mukosa, adanya keradangan pada bagian tunika propia pada bagian anterior jejunum, namun kondisi tersebut tidak menimbulkan gejala klinis pada babi (Vitovec dan Koudela, 1990). Berbeda dengan koksidiosis yang disebabkan oleh eimeria, dilaporkan koksidiosis pada babi yang disebabkan oleh Isospora suis yang dinokulasikan selama 3 hari sebanyak 300.000 sporulated oosista, babi mengalami diare non hemoragik yang umumnya terjadi pada akhir hari ke 6 dan 10 setelah diinokulasi, peningkatan dehidrasi dan kelemahan umum, dengan angka moertalitas mencapai 20,4% (Lindsay et al., 1985).<br />
Siklus hidup dari semua anggota eimeria tidak jauh berbeda. Oosista yang keluar bersama tinja terdiri dari satu sel, sporon. Sel ini diploid yang selanjutnya akan menjadi haploid. Perumbuhan oosista membutuhkan oksigen. Sporon membagi menjadi empat sporoblas, masing-masing akan menjadi sebuah sporokista, dan dua sporozoit akan terbentuk di dalamnya (Levine, 1994).<br />
MATERI DAN METODE</p>
<p>Materi<br />
Peralatan yang digunakan meliputi seperangkat alat nekropsi hewan (gunting, pinset, pisau, gunting tulang), nampan, spuit, kaca obyek, kaca penutup, kontainer sampel, tabung eppendorf, cawan petri, gelas bekker, tabung reaksi, alat sentrifus, mikroskop, pipet leukosit, pipet eritrosit, kamar hitung Neurbauer, mikrohematokrit, penangas air, TS meter, alat pembaca PCV, spektrofotometer, counter, counter diferensial leukosit, usa dan bunsen.<br />
Sampel yang digunakan adalah seekor babi (Sus scrofa) umur 3 bulan, berat badan 10 kg dengan nomor protokol C8. Bahan yang digunakan meliputi EDTA, larutan methanol, larutan giemsa absolut, larutan buffer phosphat, formalin 10%, larutan NaCl jenuh, minyak emersi, xilol, reagen Turk, larutan Drabkins, larutan NaCl fisiologis, media Brilliant Green Agar (BGA), Triple Sugar Iron (TSI), kaldu pepton, media Methyl Red – Voges Proskauer, media sitrat, agar urea, agar semisolid, gula-gula (arabinosa, dulcitol), larutan gentian violet, lugol, alkohol 95%.</p>
<p>Metode<br />
Metode diawali dengan mencatat anamnesa, gejala klinis, dan pemeriksaan fisik terhadap sampel babi. Pengambilan darah dilakukan sebelum eutanasi, dilakukan secara intrakardial dengan spuit 10 ml, jarum ukuran 21 G. Darah yang didapat segera ditampung di tabung eppendorf yang dindingnya telah dilapisi dengan EDTA sebagai antikoagulan. Sebagian darah yang ada di spuit diteteskan di atas kaca obyek untuk dibuat preparat apus darah. Setelah kering, apusan darah difiksasi dengan methanol dan dicat dengan pewarna giemsa 10% selama 30 menit. Pemeriksaan darah yang dilakukan meliputi penghitungan total eritrosit, penghitungan total leukosit, Hb, PCV, TPP, fibrinogen, dan penghitungan diferensial leukosit.<br />
Babi dieutanasi dengan emboli intrakardial yaitu dengan memasukkan udara ke dalam jantung menggunakan spuit. Setelah mati dilakukan nekropsi dengan cara mengincisi linea mediana ke anterior dan posterior, sehingga rongga abdomen terbuka. Irisan diteruskan ke rongga dada, memotong diafragma, dan memotong kostae di bagian kostokondral. Irisan diteruskan ke rongga pelvis, kemudian dibuka ke arah lateral ke ekstremitas-ektremitas. Setelah organ dalam terekspos, dilakukan pemeriksaan makroskopik untuk mengamati lesi-lesi yang ada secara inspeksi, palpasi, dan incisi. Organ dengan perubahan yang menciri diambil sampel patologi (sebesar 2 cm) dan dimasukkan ke dalam formalin 10%.<br />
Sampel untuk pemeriksaan mikrobiologi diambil dari organ dengan lesi menciri, dimasukkan dalam plastik kontainer steril, dan segera disimpan dalam freezer untuk pemeriksaan mikrobiologi lebih lanjut. Sampel yang diambil berupa potongan hepar. Sampel dikultur di media BGA sebagai media selektif untuk isolasi dan identifikasi bakteri Salmonella sp. Dari hasil kultur, setelah didapat biak murni dari media BGA, dilanjutkan dengan subkultur ke media TSI dan pengecatan Gram. Biak murni yang didapat dari media TSI diuji biokimiawi dengan uji IMViC, urease, motility, dan gula-gula.<br />
Sampel untuk pemeriksaan parasitologi berupa feses, usus, pulmo dan hepar, diambil dan disimpan dalam refrigerator untuk segera diperiksa. Sampel feses diperiksa secara natif dan sentrifus dan Mac master. Kerokan usus, perasan hepar, pulmo dan preparat apus darah diperiksa di bawah mikroskop.<br />
HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIK</p>
<p>A.     Pemeriksaan Laboratorium Patologi<br />
Berdasarkan pemeriksaan patologi, babi dengan nomor protokol C8 mengalami hepatitis, pneumonia intertisialis dan enteritis.</p>
<p>B.     Pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik<br />
Berdasarkan pemeriksaan patologi kliniki, babi dengan nomor protokol C8 mengalami anemia normositik normokromik, leukopenia dengan limfopenia, eosinopenia dan monositopenia.</p>
<p>C.     Pemeriksaan Laboratorium Parasitologi<br />
Berdasarkan pemeriksaan parasitologi, babi dengan nomor protokol C8 mengalami koksidiosis</p>
<p>D.    Pemeriksaan Laboratorium Mikrobiologi<br />
Berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi, babi dengan nomor protokol C8 terinfeksi bakteri Salmonella choleraesuis.<br />
DISKUSI</p>
<p>Babi dengan nomor protokol C8 didiagnosa menderita salmonellosis dan koksidiosis. Babi berasal dari peternakan babi di daerah Kadipiro Yogyakarta. Sebelum babi dieuthanasi, babi menunjukan gejala diare, lemah, anoreksi dan kondisi tubuh kurus.<br />
Pemeriksaan mikrobiologi diisolasi bakteri salmonella choleraesuis. Bakteri tersebut diisolasi dari hepar. Hal ini dilakukan karena dugaan salmonellosis yang sudah bersifat septikemia. Kondisi ini juga didukung oleh gejala klinis serta kondisi patologis yang terjadi pada saluran intestinal, pulmo, dan hepar. Salmonella choleraesuis merupakan genus salmonella yang paling sering menginfeksi babi (Merchant, 1950).<br />
Pemeriksaan patologis secara makroskopis, pada hepar terlihat adanya bintik putih keruh multifokal di sebagian besar lobus dengan diameter 1-2 cm dan bidang sayatan rata. Pulmo juga terlihat adanya eksudat putih keruh multifokal pada lobus diafragmaticus dengan diameter 1-2 cm. Mukosa usus terlihat berwarna kemerahan. Secara mikroskopis pada hepar terdapat infiltrasi limfosit disekitar vena sentralis, serta adanya kongesti pada sinusoid hepar. Pada pulmo terdapat infiltrasi neutrofil pada septa interalveolaris, sehingga terjadi penebalan septa interalveolaris. Duodenum dan kolon terdapat infiltrasi neutrofil serta limfosit, juga terjadi erosi pada epitel. Adanya infiltrasi sel radang di hepar maupun pulmo dikarenakan infeksi salmonella yang sudah bersifat bakterimia. Kejadian bakterimia pada kasus salmonellosis yang disebabkan oleh salmonella choleraesuis merupakan kejadian tertinggi dibanding oleh jenis salmonella lainnya (Threlfall et al., 1992).<br />
Pemeriksaan parasitologi, babi menderita koksidiosis yang disebabkan oleh eimeria suis. Koksidiosis pada babi yang disebabkan oleh eimeria spp. merupakan kondisi yang umum pada babi dan jarang menimbulkan gejala klinis (Lindsay et al., 1987; Vitovec dan Koudela, 1990; Koudela dan Vitovec, 1992; Daughschies et al., 2004).<br />
Pemeriksaan patologi klinis babi mengalami anemia normositik normokromik, leukopenia dengan limfopenia, eosinopenia dan monositopenia. Kejadian tersebut dikarenakan salmonella merupakan bakteri Gram negatif yang mempunyai faktor virulensi endotoksin membran lipopolisakarida, enterotoxin dan sitotoksin (Carter dan Wise, 2004). LPS akan dilepaskan dari bakteri yang mati, lalu masuk ke darah, dan terikat ke LPS-binding protein atau lipoprotein yang sangat padat, ia akan mengaktifkan sel (monosit, makrofag, sel endotel, platelet, dan sel hemis lain) dan sistem komplemen, koagulasi, atau bradikinin-kinin. Aktivasi sel atau sistem tersebut mula-mula akan menyebabkan neutropenia yang akan diikuti dengan neutrofilia, limfopenia, dan trombositopenia. Selanjutnya anemia akibat penyakit infeksi akan dipicu dengan pemendekan life span eritrosit dan penurunan eritropoiesis (Evans, 2000). Kondisi anemia normositik normokromik dapat terjadi karena adanya radang yang bersifat kronis (Hariono, 1993).<br />
Kondisi limfopenia dapat diakibatkan pula oleh adanya penghancuran yang meningkat yang dapat disebabkan oleh radiasi, kortikosteroid dan obat-obat sitotoksis (Dharma et al., 1994). Endotoksin dari salmonella akan menstimulir sekresi kortisol pada babi (Evans, 2000), sehingga mengakibatkan limfopenia. Sedangkan kondisi eosinopenia dapat terjadi pada keadaan stress seperti syok, luka bakar, perdarahan dan infeksi berat; juga dapat terjadi pada hiperfungsi korteks adrenal dan pengobatan dengan kortikosteroid. Pemberian epinefrin dapat menyebabkan penurunan jumlah eosinofil dan basofil, sedang jumlah monosit akan menurun pada infeksi akut. Walaupun demikian, jumlah basofil, eosinofil dan monosit yang kurang dari normal kurang bermakna dalam klinis (Dharma et al., 1994).<br />
PATOGENESIS</p>
<p>KESIMPULAN DAN SARAN<br />
Kesimpulan<br />
Berdasar pemeriksaan di laboratorium Patologi, Parasitologi, Patologi Klinik, dan Mikrobiologi, babi dengan nomor protokol C8 didiagnosa menderita salmonellosis dan koksidiosis<br />
Saran<br />
Pencegaham merupakan hal yang paling utama. Untuk mencegah terjadinya koksidiosis pada peternakan babi dapat dilakukan program pencucian, disinfektan dengan phenol, steam cleaning pada kandang, dan penanganan dengan amprolium HCL saat keluar masuk kandang (Ernst et al., 1985).<br />
Sanitasi kandang dan lingkungan harus lebih diperhatikan, terutama kontak dengan lingkungan luar, serta sirkulasi hewan harus diawasi. Pengobatan salmonellosis dengan pemberian antibiotik yang efektif untuk bakteri Gram negatif, antara lain ampicillin, streptomycin, tetracycline, chloramphenicol, golongan kuinolon maupun golongan sulfa.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Anonim, 2001. Office of Laboratory MSDS. Health. Canada</p>
<p>Anthony, D.J. 1961. Diseases of the Pig. Bailliere, Tindall and Cox. London. 154-159</p>
<p>Carter, G.R., Wise, D.J. 2004. Esentials of Veterinary Bacteriology and Mycology. Iowa Atate Press.137-139.</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Chhabra+RC%22%5BAuthor%5D">Chhabra, R.C</a> dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Mafukidze+RT%22%5BAuthor%5D">Mafukidze, R.T</a>. 1992. Prevalence of coccidia in pigs in Zimbabwe. Vet Parasitol. 41(1-2):1-5.</p>
<p>Daugschies, A., Imarom, S., Ganter, M., dan Bollwhahn, W. 2004. Prevalence of Eimeria spp. In Sows at Piglet-producing Farms in Germany. Am J Vet Res. Volume 51 issue 3. Page 135.</p>
<p>Dharma, R., Immanuel,S., dan Wirawan, R. 1994 Penilaian Hasil Pemeriksaan<br />
Hematologi Rutin. Cermin Dunia Kedokteran. No.30.</p>
<p>Dunne, Howard, W., 1975. Disease of Swine, 4th Edition. the Iowa State University Press, Ames, Iowa. Hal. 780-788, 801-805</p>
<p>Ernst, J.V., Lindsay, D.S., dan Current, W.L. 1985. Control of Isospora suis-induced Coccidiosis on a Swine Farm. Am J Vet Res. Mar;46(3):643-5</p>
<p>Evans, W.E. 2000, Schalm’s Veterinary Hematology, 5th Edition. Lippincott Williams &amp; Wilkins. Philadelphia. Hal 411-415.</p>
<p>Hariono, B., 1993, Buku Pedoman Kuliah Patologi Klinik, Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteraan Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hal 40.</p>
<p>Jawetz, Melnick, &amp; Adelberg, 2001. Medical Microbiology. Diterjemahkan oleh Bagian mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Penerbit Salemba Medika, Jakarta. Hal. 364-367</p>
<p>Koudela, B dan Vitovec, J. 1992. Biology and Pathogenicity of Eimeria spinosa (Henry 1931) in Experimentally Infected Pigs. Int. J. Parasitol. 22, 651-656.</p>
<p>Levine, N.D. 1994. Parasitologi Veteriner, terjemahan Textbook of Veterinary Parasitology. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Hal. 58-68.</p>
<p>Lindsay, D.S., Blagburn, B.L., dan Boosinger, T.R. 1987. Experimental Eimeria deblecki Infection in Nursing and Weaned Pigs. Vet. Parasitol. 25, 39-45.</p>
<p>Lindsay, D.S., Current, W.L., dan Taylor, J.R. 1985. Effect of Experimentally Induced Isospora suis Infection on Morbidity, Mortality, and Weight gains in Nursing Pigs. Am J Vet Res. 46(7):1511-2.</p>
<p>Merchant. I.A. 1950. Veterinery Bacteriology and Virology. 4th Edition. Iowa State College Press, Ames Iowa hal. 368-369.</p>
<p>Smith, A.L. 1976. Microbiology and Pathology. The C.V. Mosby Company.hal. 204.</p>
<p>Stuart, C. A. dan Rustigian, R. 1944. Strains of Salmonella Cholerae-suis Producing Acetylmethylcarbinol. Biological Laboratory, Brown University, Providence, Rhode Island. pub.sept.26. 498.</p>
<p>Threlfall, E.J., Hall, M.L.M., dan Rowe,B. 1992. Salmonella bacteraemia in England and Wales, 1981-1990. J Clin Pathol ;45:34-36</p>
<p><a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Vitovec+J%22%5BAuthor%5D">Vitovec, J</a> dan <a title="Click to search for citations by this author." href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?db=pubmed&amp;cmd=Search&amp;itool=pubmed_AbstractPlus&amp;term=%22Koudela+B%22%5BAuthor%5D">Koudela, B</a>. 1990. Pathogenicity and ultrastructural pathology of Eimeria debliecki (Douwes, 1921) in experimentally infected pigs. Folia Parasitol (Praha). 37(3):193-9</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dualapan08.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dualapan08.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dualapan08.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dualapan08.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dualapan08.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dualapan08.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dualapan08.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dualapan08.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dualapan08.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dualapan08.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dualapan08.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dualapan08.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=4&subd=dualapan08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dualapan08.wordpress.com/2008/05/01/salmonelosis-dan-koksidiosis-pada-babi-sus-scrofa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9cc4c857a3cb870788d684af7b3eccc0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dualapan08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://dualapan08.wordpress.com/2008/04/26/hello-world/</link>
		<comments>http://dualapan08.wordpress.com/2008/04/26/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 22:57:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dualapan08</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmiah]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=1&subd=dualapan08&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dualapan08.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dualapan08.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dualapan08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dualapan08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dualapan08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dualapan08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dualapan08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dualapan08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dualapan08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dualapan08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dualapan08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dualapan08.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dualapan08.wordpress.com&blog=3587030&post=1&subd=dualapan08&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dualapan08.wordpress.com/2008/04/26/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9cc4c857a3cb870788d684af7b3eccc0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dualapan08</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>